Senin, 27 Juli 2009
Berburu Bebek di Pulau Dajjal
Gerbong yang satu ini tidak bernomor seperti gerbong kereta yang lazim, tetapi memiliki sebuah plat kuningan kecil bertuliskan: Aldrich. Siapa lagi kalau bukan Nelson Aldrich, senator dari Rhode Island yang cukup kondang namanya di Wall Street dan Washington DC. Aldrich memang pemilik gerbong khusus ini dan sering dipakai bolak-balik ke Wall Street.
Di malam yang dingin dan sepi itu, Aldrich tidak sendirian. Dia bersama sejumlah lelaki misterius yang menyembunyikan identitasnya menumpang kereta yang menuju Jekyll Island, sebuah pantai kecil tempat peristirahatan pribadi di lepas pantai Georgia milik konglomerat JP. Morgan.
Rombongan tersebut membawa senjata laras panjang, sepatu boot, sangkar, dan segala pernik untuk memburu bebek. Mereka ingin orang-orang yang melihat kehadirannyamenyangka bahwa mereka akan berburu bebek. Padahal, agenda pertemuan yang ingin mereka gelar sangat jauh dari urusan berburu bebek. Mereka akan mengadakan rapat untuk menyatukan visi dan strategi menguasai perekonomian AS lewat sebuah sistem kartel mafia bernama The Federal System.
Menariknya, lokasi yang dipilih untuk mendirikan sebuah badan super body di kemudian hari bernama The Federal Reserve bank ternyata sebuah pulau kecil bernama Jekyll Island. Dalam bahasa Indonesia, Jekyll island berarti 'Pulau Dajjal'. Sekadar kebetulan atau ada simbol-simbol khusus?
Awalnya, publik Amerika tidak mengetahui nama-nama siapa saja yang hadir di dalam pertemuan di 'Pulau Dajjal' tersebut. Para tokoh Yahudi Eropa dan Amerika yang hadir hanya menyebut satu sama lain dengan nama depan dan dilarang menyebutkan nama keluarga mereka. Ini dilakukan pula di dalam gedung tempat pertemuan sehingga para pelayan pun tidak mengenal mereka.
Namun, kebenaran tetaplah kebenaran walau dibenamkan ke dalam lumpur yang paling pekat sekali pun. Perlahan-lahan, lewat sejumlah investigator independen Amerika sendiri, fakta-fakta konspirasi di 'Pulau Dajjal' terungkap. Orang-orang misterius itu ternyata berjumlag tujuh orang di mana kekayaan mereka mewakili seperempat dari total kekayaan dunia saat itu. Mereka adalah:
a. Nelson W. Aldrich (tokoh Partai Republik dalam senat, Ketua Komisi Moneter Nasional, pengusaha sukses karib JP. Morgan dan ayah mertua dari John D. Rockefeller)
b. Abraham Piatt Andrew (Asisten Menteri Keuangan AS)
c. Frank A. Vanderlip (Presiden 'The National Citybank of NY, wakil William Rockefeller dan The International Investemnt banking House of Kuhn, Loeb & Company)
d. Henry P. Davidson (mitra senior JP. Morgan Company)
e. Charles D. Norton (Presiden JP. Morgan's First National Bank of NY)
f. Benjamin Strong (Kepala JP. Morgan Bankers Trust Co)
g. Paul M. Warburg (mitra utama Kuhn, Loeb & Co, wakil Rotshcild di Inggris dan Perancis, juga Eropa)
Edward Griffin di dalam karyanya “The Creature From Jekyll Island: A Second Look at the Federal Reserve” (1994) memaparkan apa adanya tentang konspirasi menjadikan bangsa dan negara Amerika Serikat sebagai tunggangan kepentingan Yahudi Internasional lewat sisi yang paling vital yaitu ekonomi.
Diambil dari eramuslim digest edisi koleksi 7 dengan sedikit perubahan pada judul.
Bidadari Kecilku...
RSIA Bunda Aliyah, 1 Juli 2009 Pukul 18.30 WIB.
***
anakku, setelah sembilan bulan lamanya kau berada di rahim ibumu, kini kau lahir...
begitu bahagia kami memandangmu...
berakhir sudah penantian lama kami...
kau hadir menjadi penghangat kehidupan di tengah hiruk pikuk kesibukan kami, menjadi pelepas kepenatan, pelipur kegundahan dan kesedihan, penyemangat kelemahan dan kemalasan...
anakku, kelahiranmu ke dunia ini adalah anugerah sekaligus fitnah bagi kami
jadilah kau permata hati yang bukan menjadi fitnah tapi anugerah indah yang selalu kami syukuri...
dalam kegembiraan, do'a dan harapan selalu kuukir,
agar kelak kau menjadi wanita agung nan shalehah
penyejuk pandangan bagi kedua orang tuamu, juga seluruh makhluk-Nya di jagat raya ini
menjadi wanita tegar yang gigih membela kebenaran
guru peradaban dan penggelora semangat jihad fi sabilillah
jadilah kau seperti Khadijah, yang begitu tulus mencintai dan berkorban untuk Rasul-Nya..
juga Aisyah, yang begitu cerdas menyerap ajaran Rasul-Nya
juga Fatimah az Zahra, wanita agung yang dicintai Rasulullah
juga Zainab al Jahsy, yang keridhaanya pada putusan Rasulullah menjadikannya ia pengantin langit
juga Maryam, yang begitu kokoh mempertahankan iman di dada walau nyawa menjadi taruhan
Anakku, kulantunkan semua do'a ini untukmu
Agar kelak kau menjadi bagian tinta emas sejarah
menjadi pengukir peradaban tinggi din ini
menjadi guru yang selalu menggelorakan semangat jihad bagi umat dan keturunanmu
sekokoh dan setegar nama yang kusematkan padamu,
Syaikha Aqliyatul jihadi...
***
Ibnu Ishaq mengatakan Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadanya bahwa Rasulullah SAW menoleh, kemudian melihat Ummu Sulaim binti Milhan yang ketika itu ikut berperang bersama suaminya, Abu Thalhah.
Ummu Sulaim mengikat pinggangnya dengan kain burdahnya, yang ia sedang mengandung Abdullah bin Abu Thalhah, dan menaiki unta milik Abu Thalhah. Ia khawatir terlempar dari ontanya, untuk itu, ia mendekatkan kepala unta kepadanya dan memasukkan tangannya ke gelang di sisi hidung unta. Rasulullah SAW bersabda kepada Ummu Sulaim, "Hai, Ummu Sulaim." Ummu Sulaim berkata, "Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu wahai Rasulullah! Aku akan membunuh mereka yang melarikan diri darimu sebagaimana engkau membunuh orang-orang yang memerangimu, karena mereka layak mendapatkannya."
Rasulullah SAW bersabda, "Bukanlah Allah sudah cukup, wahai Ummu Sulaim?"
Ketika itu, Ummu Sulaim hanya membawa pisau. Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim. "Kenapa engkau membawa pisau seperti ini, hai Ummu Sulaim?" Ummu Sulaim menjawab, "Pisau ini sengaja aku bawa. Jika salah seorang kaum musyrikin mendekat kepadaku, aku akan menikamnya dengan pisau ini." Abu Thalhah berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan Ummu Sulaim Ar Rumaisha?"
Dinukil dari kitab Siroh Ibnu Hisyam hal. 416.
Selasa, 17 Maret 2009
Unik di Tengah Keramaian
Dalam Wikipedia Indonesia, wirausaha didefinisikan sebagai jenis usaha mandiri yang didirikan oleh seorang wirausahawan, atau sering pula disebut sebagai pengusaha. Sedangkan wirausahawan adalah seseorang yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mencari cara-cara atau teknik yang lebih baik dalam pemanfaatan sumber daya, memperkecil pemborosan, serta menghasilkan barang atau jasa dalam upayanya memuaskan kebutuhan orang lain.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan wirausahawan sebagai "orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam berproduksi, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya." Sedangkan Louis Jacques Filion menggambarkan wirausahawan sebagai orang yang imajinatif, yang ditandai dengan kemampuannya dalam menetapkan sasaran serta dapat mencapai sasaran-sasaran itu. Ia juga memiliki kesadaran tinggi untuk menemukan peluang-peluang dan membuat keputusan. Sementara Zimmerer mendefinisikan wirausahawan sebagai seseorang yang menciptakan bisnis baru dengan mengambil resiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengindetifikasikan peluang yang signifikan sumber-sumber daya itu bisa dikapitalisasikan.
Banyak teori atau tulisan yang membahas tentang kewirausahaan, kelemahan dan kekuatan, faktor-faktor yang mendukung pertumbuhannya, sampai kepada paradigma yang sering salah difahami oleh orang-orang dalam memulai dan mengembangkan bisnisnya.
Tulisan ini merupakan analisa terhadap hasil survei yang dilakukan pada hari Rabu tanggal 25 Maret 2009 di ITC Ambassador, Kuningan Jakarta Selatan dan menggabungkannya dengan teori-teori kewirausahaan yang telah ada. Diharapkan, hal ini dapat memperkuat bukti akan eksistensi bisnis mandiri khususnya usaha kecil menengah di tengah keperkasaan perusahaan-perusahaan public di dunia ini.
B. Hasil Survei
Letaknya cukup strategis. Berada di lantai dua blok A ITC Ambassador, tepat di sudut kiri escalator. Toko ini menjual berbagai benda cindera mata. Di Blok ini, ada sekitar lima toko yang menjual benda-benda cindera mata. Namun, yang membedakan, toko ini menjual cindera mata yang bukan hanya lebih beragam tapi juga lebih unik dibandingkan dengan toko lainnya. Dari mulai pin beraneka bentuk dan warna, gantungan kunci, dan pajangan ruangan yang terbuat dari keramik yang unik. Mug dan gelas berbahan keramik dan berbagai ukuran dan bentuk. Jam dinding unik, tas menarik, juga batik lukis. Bahkan perlengkapan spa pun tersedia di sini. Kesemuanya menggambarkan kekayaan etnik yang ada di Indonesia. Produk tersebut tidak diproduksi sendiri, tetapi didatngakn dari beberapa daerah yang memproduksi. Batik lukis dari Yogyakarta, keramik dari Jepara, dan Spa dari Bali. Harganya beraneka ragam, berkisar Rp 200.000,00 sampai Rp 300.000,00. Aroma toko ini pun berbeda, tercium harum bahan-bahan spa yang penuh dengan aroma khas etnis Bali.
Toko ini lebih luas dibandingkan yang lainnya, mengambil dua petak ruangan. Satu ruangnya disewa dengan harga Rp 28.000.000,00 per tahun. Pengunjung toko ini fluktuatif jumlahnya, biasanya lebih banyak pada hari-hari libur seperti hari Sabtu atau Minggu. Selain menarik pengunjung sebagai pembelinya, toko ini memiliki pelanggan tetap dari beberapa salon spa yang mengambil bahan-bahan spa nya dari sini. Sebagai toko yang menjual cindera mata, jelas perputaran benda yang dijual tidak secepat toko handphone atau makanan. Tapi karena sudah memiliki pelanggan tetap, maka biaya sewa dan manajemen fee yang harus dikeluarkan dapat tertutupi bahkan memperoleh keuntungan yang lumayan.
Pelayan toko ini ada dua orang. Keduanya wanita, satu berjilbab satunya lagi tidak. Pelayanannya biasa, tidak terlalu istimewa, bahkan cenderung ’cuek’ pada pengunjung. Hanya saja, karena benda-benda yang dijual sangat unik dan menarik, maka banyak di antara pengunjung yang aktif bertanya.
C. Pembahasan
Ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas dari hasil survei di atas, yaitu sebagai berikut:
1)Inovasi dan kreativitas
Menurut Scoott Berkun dalam bukunya, The Myth of Innovation, inovasi bukan hanya terdiri dari sekedar lontaran gagasan-gagasan atau ide-ide yang hebat saja, dibalik itu seyogyanya diperlukan kepercayaan yang kuat atas gagasan atau ide tersebut, bahwa ide itu bisa dilakukan atau dikerjakan, dan selain daripada itu juga dibutuhkan kerja keras, fokus yang tajam pada hasil akhir, dan tetap gigih ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam merealisasikannya.
Sedangkan menurut Undang-undang No.18 tahun 2002, yang dimaksud dengan inovasi adalah: “Kegiatan penelitian, pengembangan, dan/ atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi”.
Istilah inovasi memang sering didefinisikan secara berbeda- beda, walaupun pada umumnya memiliki pemaknaan yang serupa, yakni sebagai suatu proses dan/ atau hasil pengembangan dan/atau pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem yang baru, yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial).
Inovasi, dalam ilmu lingustik adalah fenomena munculnya kata-kata baru dan bukan kata-kata warisan. Inovasi berbeda dengan neologisme. “Inovasi bersifat tidak sengaja”.
Selain inovasi, unsur kreativitas juga dimiliki oleh pemilik toko ini. Kata kreatif adalah untuk merujuk sifat atau perilaku seseorang yang memiliki daya cipta atau kemampuan untuk menciptakan. Seorang pengusaha selalu dituntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi secara terus menerus. Sebab para pengusaha diharapkan dapat melakukan inovasi dengan menghasilkan hal-hal baru yang berguna bagi masyarakat luas, atau menemukan cara-cara baru yang memberikan nilai tambah terhadap sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Kelebihan lain dari sifat kreatif yang melekat dalam diri pengusaha adalah kemampuannya untuk melihat peluang dalam masalah-masalah yang muncul di masyarakat, dan kemudian mampu menciptakan beragam produk dan jasa sebagai solusi untuk mengatasi masalah dan tentunya juga meraih keuntungan. Atau yang sering kita tahu, para pengusaha yang kreatif biasanya mampu menemukan terobosan-terobosan baru sekaligus melakukan pembaharuan dari produk-produk yang sudah ada.
Adapun inovasi yang bisa dilihat dari pemilik toko tersebut adalah kemampuannya melihat peluang di pasar. Ketika semua toko-toko yang ada menjual benda-benda cindera mata yang hampir mirip, pemilik toko ini menyodorkan hal yang baru dengan menghadirkan produk-produk cindera mata yang lebh kental nuansa etnisnya. Sementara kreativitasnya bisa dilihat dari kemampuan memadukan produk-produk yang beragam etnik tersebut menjadi sebuah pajangan yang lengkap dan menarik tanpa menghilangkan unsur-unsur khasnya sekaligus mengkomposisikan harga yang saling menutupi dari harga yang murah dan terjangkau sampai pada level harga yang tinggi.
2)Kemampuan Melihat Pasar
Kim dan Mauborgne dalam bukunya Blue Ocean Strategy, yang menggambarkan pergeseran paradigma dalam aksi strategis, membagi dunia strategi bisnis dalam dua samudra, yaitu red ocean dan blue ocean. Dalam red ocean, perusahaan fokus pada pertarungan di lanskap kompetisi yang sudah ada. Perusahaan saling bertempur hingga berdarah-darah. Cara yang cerdas untuk menghadapi situasi ini adalah melompat ke blue ocean. Samudra biru adalah area baru yang diciptakan dengan kreativitas dan imajinasi. Di blue ocean inilah perusahaan menciptakan aturan main sendiri, menciptakan pasar sendiri dan membuat kompetisi berikut kompetitor yang baku hantam menjadi tidak lagi relevan. Enam prinsip yang dapat digunakan oleh setiap perusahaan untuk merumuskan dan menerapkan strategi samudra biru dengan sukses :
a) Cara merekonstruksi batas-batas pasar,
b) Berfokus pada gambaran besar,
c) Melampaui tuntutan yang ada,
d) Merancang rangkaian strategi dengan benar,
e) Mengatasi rintangan-rintangan organisasional,
f) Mengintegrasikan eksekusi ke dalam strategi.
Pemilik toko ini mampu melihat peluang pasar, bahwa di ITC Ambassador belum ada yang menjual produk-produk etnis. Dia tidak memilih di red ocean untuk bersaing dengan pasar cindera mata yang sudah ada, tetapi lebih memilih berada di blue ocean dengan menciptakan pasar tersendiri.
3) Kekuatan Pemasaran
Pemasaran terhadap produk yang ada di toko ini terbantu dengan pemasaran yang dilakukan oleh Manajemen ITC Ambassador. Dengan sendirinya, pihak manajemen sudah melakukan pemsaran dengan biaya yang besar untuk menghadirkan pembeli ke pasar yang telah diciptakannya. Inilah kemudahan yang didapatkan ketika membuka usaha di daerah yang secara pangsa pasar sudah jelas. Hampir bisa dikatakan, pemasaran yang dilakukan tidak ada. Hanya mengandalkan kehadiran pembeli yang berkunjung ke ITC baik yang sengaja mau beli produknya maupun yang tidak sengaja lewat dan tertarik dengan produk-produk khas yang dijajakan.
4) Kemampuan Jaringan
Sebagaimana yang sudah disinggung pada tulisan di atas, selain mengandalkan pengunjung sebagai konsumen atau pembeli barang-barang yang mereka jual, pemilik toko ini juga sudah memiliki pelangggan yang tetap dari beberapa salon spa khususnya untuk produk-produk perlengkapan spa dari Bali. Tentunya hal ini bisa mendukungnya untuk lebih dapat bertahan.
5) Pelayanan Pelanggan
Untuk masalah pelayanan terhadap pelanggan atau pembeli, toko ini agak lemah. Pelayan toko cenderung kurang peduli dan kurang ramah menyapa calon pembeli sehingga menimbulkan keraguan calon pembeli untuk bertransaksi. Sepertinya, kekuatan toko ini hanya terletak pada produk yang dijajakan dan aroma etnik yang khas sebagai daya tarik pengunjung.
D. Penutup
Kekuatan wirausaha terletak pada kreativitas dan inovasi wirausahawan, baik dalam melihat peluang pasar maupun dalam memunculkan produk-produk yang unik dan menarik di pasar. Sementara kekuatan pemasaran, jaringan, dan pelayanan pada pelanggan merupakan kekuatan pendukung untuk eksistensi bisnis yang dilakukan.
E. Daftar Pustaka
Zimmerer, Thomas W dan Norman M.Scarborough. Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Kecil. Bahan Mengajar.
http://www.pengusahamuslim.com
http://http://id.wikipedia.org
Maksiat
Kisah Perang Uhud harus menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Ketika sebagian pasukan perang sibuk mengejar harta rampasan dan begitu juga pasukan pemanah turun gunung ikut memperebutkan harta rampasan. maka terjadilah musibah luar biasa. Korban berjatuhan di kalangan umat Islam. Rasulullah saw. pun berdarah-darah.
Kisah penghancuran Kota Baghdad oleh pasukan Tartar juga terjadi karena umat Islam bergelimang kemaksiatan. Khilafah Islam pun runtuh, selain dari faktor adanya konspirasi internasional yang melibatkan Inggris, Amerika Serikat, dan Israel, karena umat Islam berpecah belah dan kemaksiatan yang mereka lakukan.
Umar bin Khattab berwasiat ketika melepas tentara perang: ”Dosa yang dilakukan tentara (Islam) lebih aku takuti dari musuh mereka. Sesungguhnya umat Islam dimenangkan karena maksiat musuh mereka kepada Allah. Kalau tidak demikian kita tidak mempunyai kekuatan, karena jumlah kita tidak sepadan dengan jumlah mereka, perlengkapan kita tidak sepadan dengan perlengkapan mereka. Jika kita sama dalam berbuat maksiat, maka mereka lebih memiliki kekuatan. Jika kita tidak dimenangkan dengan keutamaan kita, maka kita tidak dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.”
Jumat, 12 Desember 2008
Tadabbur Ayat Hijrah
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Keempat ayat ini merupakan satu-satunya rangkaian ayat-ayat hijrah yang paling lengkap dan tersusun secara berurutan dari sekitar dua puluh ayat yang berbicara tentang hijrah. Karena ayat hijrah yang lain tersebar di beberapa tempat secara terpisah dan berdiri sendiri, tidak memiliki relevansi dengan ayat sebelum atau sesudahnya.
Dalam konteks hijrah, akan lahir dua kelompok manusia yang sama-sama secara berdampingan mendapat penghargaan dan tempat istimewa di sisi Allah atas ketulusan pengorbanan dan pengabdian mereka. Dua kelompok tersebut diabadikan dengan istilah yang indah dalam Al-Qur’an, yaitu Muhajirin dan Anshar. Muhajirin adalah orang-orang yang dengan suka rela meninggalkan semua yang mereka miliki beserta tanah air tempat tinggal mereka demi menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kelompok Anshor adalah mereka yang siap menerima, membela, memberi perlindungan dan bantuan kepada orang-orang yang berhijrah dengan tanpa mengharapkan imbalan selain balasan pahala dari Allah swt.
Kedua kelompok manusia ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dengan penghargaan dan jaminan yang tertinggi; Ridho Allah dan syurga-Nya yang abadi. Allah berfirman:
Ayat dengan redaksi yang sama dengan ayat ini berulang di surat At-taubah: 117, An-Nur: 22, Al-Ahzab: 6, dan Al-Hasyr: 8
Yang menarik untuk dicermati dari ayat yang menyebut aktor pelaku hijrah bahwa selain dari kelompok Muhajirin dan Anshar, Allah masih membuka peluang jaminan dan penghargaan yang sama dengan mereka bagi siapapun yang mampu mengikuti jejak teladan kedua kelompok itu dengan baik pasca hijrah yang tersirat dari firmanNya: “dan orang-orang yang mengikuti mereka (Muhajirin dan Anshar) dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.
Demikian gambaran hijrah Rasul dengan para sahabatnya dalam konteks sejarah ayat di atas ternyata sarat dengan nilai perjuangan, pengorbanan, kepeduliaan terhadap sesama, kesabaran dan persaudaraan (ukhuwah) yang melebihi batas kekeluargaan dan kekerabatan karena direkat dengan ikatan akidah. Nilai luhur ini merupakan nilai universal yang berlaku sepanjang zaman pasca sabda Rasulullah saw tentang hijrah: “Tidak ada hijrah setelah pembebasan kota Mekah, tetapi jihad dan niat”. (H.R. Bukhari). Justru ujian nilai hijrah akan tetap menjadi neraca ketulusan dan kualitas iman seseorang dengan sebuah jaminan bahwa hijrah yang diperintahkan Allah tidak ada lain adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.
Allah berfirman menjelaskan jaminan-Nya: “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An-Nisa’: 100).
Sungguh begitu mempesona Fragmen kehidupan dan interaksi harmonis yang tercermin antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dalam konteks Al-Itsar (mengutamakan dan lebih mementingkan saudaranya meskipun ia sangat membutuhkan) yang merupakan tahapan tertinggi dari sebuah implementasi bangunan ukhuwah (persaudaraan) yang telah ditunjukkan dalam sejarah hijrah sahabat Rasulullah: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”.(Al-Hasyr: 9)
Pembacaan lain dari ayat-ayat hijrah, bahwa aktifitas hijrah tidak terlepas dan selalu diapit dengan iman sebagai pondasi dan perjuangan (jihad) sebagai nilai aplikatif dari hijrah. Pendampingan dan pengapitan hijrah dengan iman dan jihad di dalam Al-Qur’an tentu bukan sebatas memenuhi standar keindahan bahasa Al-Qur’an, tetapi lebih dari itu terdapat nilai dan hikmah yang dikehendaki oleh Allah agar kita senantiasa memaknainya; bahwa hijrah memang merupakan bukti ketulusan iman seseorang, sedangkan jihad merupakan buah sekaligus konsekuensi logis dari aktifitas hijrah. Iman tanpa hijrah tidak akan bermakna, begitupula hijrah tanpa jihad berarti tidak berbuah. Makanya pendampingan ini berulang sebanyak sembilan kali, diawali dengan surat Al-Baqarah: 218 yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Kemudian disusul secara berurutan dengan surat Ali Imran: 195, Al-Anfal; 72-75, At-Taubah: 20, An-Nahl: 41 dan 110, serta surat Al-Hajj: 58.
Semua ayat yang berbicara tentang hijrah di atas adalah dalam konteks hijrah makaniyah (hijrah fisik; perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain) untuk mempertahankan akidah. Terdapat hanya satu ayat yang berbicara dalam konteks hijrah ma’nawiyah (hijrah nilai; berubah dari satu keadaan menuju keadaan yang lebih baik), yaitu firman Allah swt: “Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku senantiasa berhijrah kepada Tuhanku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Ankabut: 26). Dan di antara yang harus ditinggalkan dalam konteks hijrah maknawiyah seperti yang pernah Allah perintahkan kepada Rasulullah di era awal turunnya Al-Qur’an adalah perbuatan dosa dan maksiat seperti yang disebutkan dalam surat Al-Muddatsir: 5 yang bermaksud: “Dan perbuatan dosa tinggalkanlah”.
Memang hijrah makaniyah sangat kondisional dan mungkin tidak akan berulang seperti yang pernah terjadi di era Rasul, tetapi nilai dan pelajaran hijrah makaniyah masih tetap relevan, yaitu pelajaran kesabaran, kesiapan berkorban dan berjuang, kepeduliaan terhadap sesama, pelajaran persaudaraan yang dibangun atas dasar iman dengan itsar sebagai peringkat yang tertinggi serta pelajaran ta’awun untuk memperkuat posisi Islam dan umatnya. Kehidupan sosial yang ideal dan harmonis justru dirasakan oleh para sahabat saat peristiwa hijrah berlangsung. Sungguh betapa bernilai memang pelajaran hijrah para sahabat Rasul sehingga layak dijadikan momentum untuk melakukan perubahan dan perbaikan arah yang lebih baik, baik dalam skala pribadi, keluarga dan sosial.
Ditambah dengan hijrah ma’nawiyah yang merupakan media komunikasi dan harmonisasi hubungan dengan sang Khaliq. Semoga nilai dan pelajaran hijrah akan senantiasa mewarnai kehidupan kita menuju kehidupan yang lebih baik di bawah naungan rahmat dan ridha Allah swt. Amin.
Rabu, 03 Desember 2008
10 Hari Pertama Dzulhijjah
“Demi fajar. Dan malam yang sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil.” Qs. Al Fajr:1-3.
“Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. : “Puasa hari Asyura, Puasa 1-8 zulhijjah, 3 hari tiap bulan dan dua rakaat sebelum fajar.” Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i.Dari Ibni Abbas ra bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada amal yang lebih dicintai Allah dari hari ini, (yaitu 10 hari bulan Zulhijjah).” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah saw., dibandingkan dengan jihad fi sabilillah?” . “Meskipun dibandingkan dengan jihad fi sabililllah.” Riwayat Jamaah kecuali Muslim dan Nasa’i.
Pada hari-hari ini ada momentum yang sangat berharga, yaitu hari Arafah, siapa yang melaksanakan shaum sunnah pada waktu tersebut, maka dosanya akan diampuni satu tahun yang telah lewat dan satu tahun yang akan datang.
“Rasulullah saw. ditanya tentang shaum hari Arafah, beliau menjawab: “Shaum Arafah menghapus dosa satu tahun yang telah lewat dan satu tahun yang akan datang.” Imam Muslim dalam sahihnya.
Hari-hari ini merupakan puncak prosesi ibadah haji, waktu-waktu mahal bagi seseorang yang melaksanakan ibadah ke tanah suci. Rasulullah saw. bersabda:
“Haji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga. Dan dua umrah atau antara umrah satu dengan umrah berikutnya, menghapus kesalahan antara keduanya.” Imam Ahmad dalam musnadnya.
Di antara hari-hari inilah ada yang disebut dengan “Al Hajjul Akbar”, yaitu hari penyembelihan, penyembelihan hewan kurban yang hukumnya sunnah mu’akkadah, sunnah yanng sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw. dilaksanakan setelah shalat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah dan dilanjutkan pada hari ketiga berikutnya, 11,12, dan 13 Dzulhijjah, yang dikenal dengan “ayyamun nahr” -hari-hari penyembelihan-.
“Barangsiapa memiliki kelapangan rizki, namun tidak menyembelih hewan kurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” Imam Ahmad dan Ibnu Majah.
Sumber: dakwatuna.com
Jumat, 14 November 2008
JIHAD.... OR TEROR...?
Jika kita buka satu persatu pembahasan-pembahasan tentang jihad, hampir semuanya mengarah pada bentuk jihad qitali, sebagai puncak dari jihad. Walaupun hampir keseluruhan ulama juga sepakat bahwa sektor jihad tidak hanya mengerucut pada jihad qitali semata. Prof Dr. Syekh Abdullah Nasih Ulwan (ulama pergerakan Islam terkemuka) juga membenarkan adanya bentuk jihad yang lainnya, seperti jihad mali, jihad iqtishadi, jihad siyasi, jihad ta'limi, dsb. (Lihat buku hattaya'lama syabab...). Pada intinya, seluruh rangkaian aktivitas yang mengarah pada litakuna kalimatallah hiyal ulya, yang dilakukan secara benar sesuai dengan manhaj Al-Qur'an dan sunnah, dapat dikategorikan sebagai jihad fi sabilillah...Bahkan dalam beberapa keadaan, jihad mali, jihad siyasi, jihad ta'limi bisa lebih baik dari pada jihad qitali itu sendiri, meskipun jihad qitali adalah puncaknya jihad. Hal ini karena situasi dan kondisi sangat menentukan dalammelihat amalan mana yang paling afdhal.
Dalam hadits, terdapat beberapa riwayat di mana sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai amalan yang paling afdhal. Dan ketika menjawabnya, ternyata terhadap sahabat yang satu terkadang Rasulullah SAW memberikan jawaban berbeda ketika menjawab sahabat yang lainnya, tergantung situasi dan kondisinya. Terkadang beliau mengatakan al-jihadu fi sabilillah sebagai amalan yang paling afdhal, namun di lain tempat beliau mengatakan al-hajjul mabruru, di lain tempat beliau mengatakan birrul walidaini, dsb. Ini artinya bahwa suatu amalan tidak melulu dipandang paling baik sepanjang masa. Ketika adzan berkumandang, maka amalan yang paling afdhal adalah segera memenuhi panggilan Allah shalat di Masjid, membaca Al-Qur'an menjadi tidak afdhal pada saat tersebut.
Dalam pelaksanaannya, jihad (qitali) memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh "sang mujahid". Di daerah yang "terjajah" oleh musuh-musuh Allah, seperti Palestina, semua ulama bahkan sepakat, bahwa aksi pengeboman dengan mengorbankan diri sendiri adalah sebagai mati syahid. Aksi seperti inipun kemudian dikenal dengan istilah amaliyah istisyhadiyah. Ini disepakati oleh hampir seluruh ulama, bahkan termasuk ulama Arab Saudi sekalipun. Karena secara pembagian wilayah jihad, wilayah tersebut masuk dalam kategori darul harb, yang setiap muslim berkewajiban untuk mempertahankan wilayah negaranya. Adapun diluar darul harb, ulama tidak sepakat apakah diperbolehkan untuk melakukan aksi pengeboman. Bahkan setahu saya bahwa sebagian besar ulama melarangnya, meskipun ada juga ulama yang memperbolehkannya, itupun dengan syarat-syarat dan kondisi tertentu.
Pertanyaan apakah Ali Ghufran, Amrozi, dan Imam Samudera adalah termasuk para syuhada? Wallahu A'lam Bis Shawab, hanya Allah yang Maha Tahu. Karena banyakVariabel agar seseorang dikatakan sebagai syuhada'. Faktor keikhlasan, niatan yang benar, cara yang benar, sarana yang benar, waktu yang benar, objek yangbenar, adalah di antara faktor kesyahidan seseorang. Dan terkadang dalam hal ini,faktor kesubyektifitasan orang yang menilai juga menjadi faktor tarik menarik untuk menilai apakah si fulan termasuk syuhada' atau bukan. Sebagian kalangan sangat yakin bahwa mereka adalah para syuhada, sementara kalangan yang lain sangat yakin bahwa mereka bukan syuhada', sementara ada sebagian kalangan yang baina-baina; melihat niatannya benar namun caranya salah... Wallahu A'lam BisShawab, hanya Allah sajalah yang Maha Tahu.
Allah Maha Tahu, atas seseorang yang dinegatifkan oleh dunia, dianggap sebagai biang kekecauan dunia dan dianggap orang paling bejat di dunia, bisa jadi ia adalah orang yang paling baik di hadapan Allah.... Sebaliknya ada orang yang mungkin oleh orang sedunia ia dianggap sebagai ahlul khair... bahkan semua orang sepakat bahwa ia adalah ahlul khair, namun ternyata ia tidak memiliki satu bentuk sifat khair pun di mata Allah SWT.... Hanya Allah yang Maha Tahu. Karena hal ini merupakan hal yang "ghaib", yang tidak bisa dideteksi secarala hiriyah...
Ada sebuah riwayat Imam Muslim yang juga dicantumkan oleh Syekh Sayid Muhammad Nuh dalam Taujihad Nabawiyah, tentang seorang yang dianggap mati syahid. Lalu ia dihadapkan kepada Allah SWT, lantas Allah bertanya kepadanya, "amalan apa yangtelah engkau lakukan? Ia menjawab aku berjuang (berperang)di jalan-Mu hingga aku mati syahid." Kemudian Allah berfirman, "Engkau berdusta. Engkau berjuang supaya dikatakan pemberani, dan perkataan itu telah diucapkan manusia.." Lalu ia ditarik dari hadapan Allah hingga dicampakkan ke dalam neraka. (HR Muslim,KitabAl-Imarah, Bab Man Qatala Lir Riya' Was Sum'ah Istahaqqan Nar...)
Namun yang sebalinya juga ada, seseroang yang ketika para sahabat berperang ia masih mengunyah beberapa butir kurma, enggan untuk turut ke medan perang. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah, apa yang akan ia dapatkan jika ia terbunuh di medan pertempuran? Ketika dijawab surga, iapun segera bangkit menuju medan pertempuran, dan ia mendapatkan syahid....
Kita semua hanya bisa mendoakan, agar orang-orang yang kita cintai medapatkan tempat yang paling mereka cintai, di sisi Rab yang mereka cintai.... Seraya kita juga introspeksi diri agar kita memperbaiki amaliyah-amaliyah kita baik yang bersifat lahiriyah maupun batiniyah agar menjadi lebih baik lagi dari harike hari.... Serta hendaknya kita juga benar-benar mempelajari bagaiamana sesungguhnya manhaj perjuangan yang tepat yang dicontohkan oleh Rasulullah SAWbersama para sahabatnya.
Ada satu hal lagi mungkin yang perlu digaris bawahi mengenai firman Allah SWT dalam surat Al-Anfal : 60. Yaitu bahwa kata turhibuna ditafirkan oleh mayoritasa hli tafsir dengan yukhawwifuna, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasaIndonesia dengan "menggetarkan". (Lihat Ibnu Katsir, Al-Qurtubi, Al-Jalalain,dsb). Menafsirkan ayat yurhibuna dengan menteror, menurut saya agak kurang tepat. Walaupun dalam bahasa Arab kontemporer yang digunakan oleh media masa Arab saat ini, seringkali menterjemahkan istilah terorisme dengan irhabiyah, teroris dengan irhabi atau irhabiyun (jama'). Istilah yang digunakan oleh mediaArab ini justru pada mulanya "mengacaukan" pemahaman tentang makna turhibuna dalam surat Al-Anfal 60 ini. Dan menurut saya, kita jangan terjebak oleh penerjemahan media masa Arab sekuler tersebut.
Yukhawwifuna (yang kemudian diartikan menggetarkan) lebih mengarah pada kewibawaan umat, ketika kita memiliki pasukan yang telatih, memiliki mentalitas keimanan yang baik, siap tempur, berjumlah cukup banyak, memiliki peralatan yangmemadai (pada zamannya minimal kuda perang). Dengan pasukan yang seperti itu,akan mengakibatkan musuh-musuh Allah menjadi "takut" dan "gentar". Dan saya belum menemukan (minimal dari tafsir-tafsir yang saya baca), bahwa turhibuna itubermakna menteror. Karena Rasulullah SAW sendiri pun tidak pernah mencontohkan untuk melakukan satu bentuk teror (kecuali dalam kondisi darul harbi, di tengah medan pertempuran). Demikian juga para sahabat-sahabat beliau. Oleh karenanya, saya menghimbau agar kita semua lebih berhati-hati dalam mentafsirkan ayat-ayat tertentu, agar tidak terjerumus dalam pemahaman yang "dakhil" atau kurang tepat. Karena kalau pemahamanan kurang tepat, tentu aksinya akan kurang tepat. Dan jika aksinya kurang tepat, tentu hasilnya juga kurang tepat. Dan tanggungjawab dihadapan Allah SWT pun akan menjadi kurang tepat. Namun marilah kita menuju pemahaman yang tepat, yang akan melahirkan aksi yang tepat, hasil yangtepat dan tanggung jawab dihadapan Allah yang juga tepat....
Sebagaimana disampaikan Al Ustadz Rikza Maulan, Sekretaris DPS PT Asuransi Takaful Indonesia dalam Forum Takaful