Selasa, 17 Maret 2009
Unik di Tengah Keramaian
Dalam Wikipedia Indonesia, wirausaha didefinisikan sebagai jenis usaha mandiri yang didirikan oleh seorang wirausahawan, atau sering pula disebut sebagai pengusaha. Sedangkan wirausahawan adalah seseorang yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mencari cara-cara atau teknik yang lebih baik dalam pemanfaatan sumber daya, memperkecil pemborosan, serta menghasilkan barang atau jasa dalam upayanya memuaskan kebutuhan orang lain.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan wirausahawan sebagai "orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam berproduksi, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya." Sedangkan Louis Jacques Filion menggambarkan wirausahawan sebagai orang yang imajinatif, yang ditandai dengan kemampuannya dalam menetapkan sasaran serta dapat mencapai sasaran-sasaran itu. Ia juga memiliki kesadaran tinggi untuk menemukan peluang-peluang dan membuat keputusan. Sementara Zimmerer mendefinisikan wirausahawan sebagai seseorang yang menciptakan bisnis baru dengan mengambil resiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengindetifikasikan peluang yang signifikan sumber-sumber daya itu bisa dikapitalisasikan.
Banyak teori atau tulisan yang membahas tentang kewirausahaan, kelemahan dan kekuatan, faktor-faktor yang mendukung pertumbuhannya, sampai kepada paradigma yang sering salah difahami oleh orang-orang dalam memulai dan mengembangkan bisnisnya.
Tulisan ini merupakan analisa terhadap hasil survei yang dilakukan pada hari Rabu tanggal 25 Maret 2009 di ITC Ambassador, Kuningan Jakarta Selatan dan menggabungkannya dengan teori-teori kewirausahaan yang telah ada. Diharapkan, hal ini dapat memperkuat bukti akan eksistensi bisnis mandiri khususnya usaha kecil menengah di tengah keperkasaan perusahaan-perusahaan public di dunia ini.
B. Hasil Survei
Letaknya cukup strategis. Berada di lantai dua blok A ITC Ambassador, tepat di sudut kiri escalator. Toko ini menjual berbagai benda cindera mata. Di Blok ini, ada sekitar lima toko yang menjual benda-benda cindera mata. Namun, yang membedakan, toko ini menjual cindera mata yang bukan hanya lebih beragam tapi juga lebih unik dibandingkan dengan toko lainnya. Dari mulai pin beraneka bentuk dan warna, gantungan kunci, dan pajangan ruangan yang terbuat dari keramik yang unik. Mug dan gelas berbahan keramik dan berbagai ukuran dan bentuk. Jam dinding unik, tas menarik, juga batik lukis. Bahkan perlengkapan spa pun tersedia di sini. Kesemuanya menggambarkan kekayaan etnik yang ada di Indonesia. Produk tersebut tidak diproduksi sendiri, tetapi didatngakn dari beberapa daerah yang memproduksi. Batik lukis dari Yogyakarta, keramik dari Jepara, dan Spa dari Bali. Harganya beraneka ragam, berkisar Rp 200.000,00 sampai Rp 300.000,00. Aroma toko ini pun berbeda, tercium harum bahan-bahan spa yang penuh dengan aroma khas etnis Bali.
Toko ini lebih luas dibandingkan yang lainnya, mengambil dua petak ruangan. Satu ruangnya disewa dengan harga Rp 28.000.000,00 per tahun. Pengunjung toko ini fluktuatif jumlahnya, biasanya lebih banyak pada hari-hari libur seperti hari Sabtu atau Minggu. Selain menarik pengunjung sebagai pembelinya, toko ini memiliki pelanggan tetap dari beberapa salon spa yang mengambil bahan-bahan spa nya dari sini. Sebagai toko yang menjual cindera mata, jelas perputaran benda yang dijual tidak secepat toko handphone atau makanan. Tapi karena sudah memiliki pelanggan tetap, maka biaya sewa dan manajemen fee yang harus dikeluarkan dapat tertutupi bahkan memperoleh keuntungan yang lumayan.
Pelayan toko ini ada dua orang. Keduanya wanita, satu berjilbab satunya lagi tidak. Pelayanannya biasa, tidak terlalu istimewa, bahkan cenderung ’cuek’ pada pengunjung. Hanya saja, karena benda-benda yang dijual sangat unik dan menarik, maka banyak di antara pengunjung yang aktif bertanya.
C. Pembahasan
Ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas dari hasil survei di atas, yaitu sebagai berikut:
1)Inovasi dan kreativitas
Menurut Scoott Berkun dalam bukunya, The Myth of Innovation, inovasi bukan hanya terdiri dari sekedar lontaran gagasan-gagasan atau ide-ide yang hebat saja, dibalik itu seyogyanya diperlukan kepercayaan yang kuat atas gagasan atau ide tersebut, bahwa ide itu bisa dilakukan atau dikerjakan, dan selain daripada itu juga dibutuhkan kerja keras, fokus yang tajam pada hasil akhir, dan tetap gigih ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam merealisasikannya.
Sedangkan menurut Undang-undang No.18 tahun 2002, yang dimaksud dengan inovasi adalah: “Kegiatan penelitian, pengembangan, dan/ atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi”.
Istilah inovasi memang sering didefinisikan secara berbeda- beda, walaupun pada umumnya memiliki pemaknaan yang serupa, yakni sebagai suatu proses dan/ atau hasil pengembangan dan/atau pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem yang baru, yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial).
Inovasi, dalam ilmu lingustik adalah fenomena munculnya kata-kata baru dan bukan kata-kata warisan. Inovasi berbeda dengan neologisme. “Inovasi bersifat tidak sengaja”.
Selain inovasi, unsur kreativitas juga dimiliki oleh pemilik toko ini. Kata kreatif adalah untuk merujuk sifat atau perilaku seseorang yang memiliki daya cipta atau kemampuan untuk menciptakan. Seorang pengusaha selalu dituntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi secara terus menerus. Sebab para pengusaha diharapkan dapat melakukan inovasi dengan menghasilkan hal-hal baru yang berguna bagi masyarakat luas, atau menemukan cara-cara baru yang memberikan nilai tambah terhadap sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Kelebihan lain dari sifat kreatif yang melekat dalam diri pengusaha adalah kemampuannya untuk melihat peluang dalam masalah-masalah yang muncul di masyarakat, dan kemudian mampu menciptakan beragam produk dan jasa sebagai solusi untuk mengatasi masalah dan tentunya juga meraih keuntungan. Atau yang sering kita tahu, para pengusaha yang kreatif biasanya mampu menemukan terobosan-terobosan baru sekaligus melakukan pembaharuan dari produk-produk yang sudah ada.
Adapun inovasi yang bisa dilihat dari pemilik toko tersebut adalah kemampuannya melihat peluang di pasar. Ketika semua toko-toko yang ada menjual benda-benda cindera mata yang hampir mirip, pemilik toko ini menyodorkan hal yang baru dengan menghadirkan produk-produk cindera mata yang lebh kental nuansa etnisnya. Sementara kreativitasnya bisa dilihat dari kemampuan memadukan produk-produk yang beragam etnik tersebut menjadi sebuah pajangan yang lengkap dan menarik tanpa menghilangkan unsur-unsur khasnya sekaligus mengkomposisikan harga yang saling menutupi dari harga yang murah dan terjangkau sampai pada level harga yang tinggi.
2)Kemampuan Melihat Pasar
Kim dan Mauborgne dalam bukunya Blue Ocean Strategy, yang menggambarkan pergeseran paradigma dalam aksi strategis, membagi dunia strategi bisnis dalam dua samudra, yaitu red ocean dan blue ocean. Dalam red ocean, perusahaan fokus pada pertarungan di lanskap kompetisi yang sudah ada. Perusahaan saling bertempur hingga berdarah-darah. Cara yang cerdas untuk menghadapi situasi ini adalah melompat ke blue ocean. Samudra biru adalah area baru yang diciptakan dengan kreativitas dan imajinasi. Di blue ocean inilah perusahaan menciptakan aturan main sendiri, menciptakan pasar sendiri dan membuat kompetisi berikut kompetitor yang baku hantam menjadi tidak lagi relevan. Enam prinsip yang dapat digunakan oleh setiap perusahaan untuk merumuskan dan menerapkan strategi samudra biru dengan sukses :
a) Cara merekonstruksi batas-batas pasar,
b) Berfokus pada gambaran besar,
c) Melampaui tuntutan yang ada,
d) Merancang rangkaian strategi dengan benar,
e) Mengatasi rintangan-rintangan organisasional,
f) Mengintegrasikan eksekusi ke dalam strategi.
Pemilik toko ini mampu melihat peluang pasar, bahwa di ITC Ambassador belum ada yang menjual produk-produk etnis. Dia tidak memilih di red ocean untuk bersaing dengan pasar cindera mata yang sudah ada, tetapi lebih memilih berada di blue ocean dengan menciptakan pasar tersendiri.
3) Kekuatan Pemasaran
Pemasaran terhadap produk yang ada di toko ini terbantu dengan pemasaran yang dilakukan oleh Manajemen ITC Ambassador. Dengan sendirinya, pihak manajemen sudah melakukan pemsaran dengan biaya yang besar untuk menghadirkan pembeli ke pasar yang telah diciptakannya. Inilah kemudahan yang didapatkan ketika membuka usaha di daerah yang secara pangsa pasar sudah jelas. Hampir bisa dikatakan, pemasaran yang dilakukan tidak ada. Hanya mengandalkan kehadiran pembeli yang berkunjung ke ITC baik yang sengaja mau beli produknya maupun yang tidak sengaja lewat dan tertarik dengan produk-produk khas yang dijajakan.
4) Kemampuan Jaringan
Sebagaimana yang sudah disinggung pada tulisan di atas, selain mengandalkan pengunjung sebagai konsumen atau pembeli barang-barang yang mereka jual, pemilik toko ini juga sudah memiliki pelangggan yang tetap dari beberapa salon spa khususnya untuk produk-produk perlengkapan spa dari Bali. Tentunya hal ini bisa mendukungnya untuk lebih dapat bertahan.
5) Pelayanan Pelanggan
Untuk masalah pelayanan terhadap pelanggan atau pembeli, toko ini agak lemah. Pelayan toko cenderung kurang peduli dan kurang ramah menyapa calon pembeli sehingga menimbulkan keraguan calon pembeli untuk bertransaksi. Sepertinya, kekuatan toko ini hanya terletak pada produk yang dijajakan dan aroma etnik yang khas sebagai daya tarik pengunjung.
D. Penutup
Kekuatan wirausaha terletak pada kreativitas dan inovasi wirausahawan, baik dalam melihat peluang pasar maupun dalam memunculkan produk-produk yang unik dan menarik di pasar. Sementara kekuatan pemasaran, jaringan, dan pelayanan pada pelanggan merupakan kekuatan pendukung untuk eksistensi bisnis yang dilakukan.
E. Daftar Pustaka
Zimmerer, Thomas W dan Norman M.Scarborough. Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Kecil. Bahan Mengajar.
http://www.pengusahamuslim.com
http://http://id.wikipedia.org
Maksiat
Kisah Perang Uhud harus menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Ketika sebagian pasukan perang sibuk mengejar harta rampasan dan begitu juga pasukan pemanah turun gunung ikut memperebutkan harta rampasan. maka terjadilah musibah luar biasa. Korban berjatuhan di kalangan umat Islam. Rasulullah saw. pun berdarah-darah.
Kisah penghancuran Kota Baghdad oleh pasukan Tartar juga terjadi karena umat Islam bergelimang kemaksiatan. Khilafah Islam pun runtuh, selain dari faktor adanya konspirasi internasional yang melibatkan Inggris, Amerika Serikat, dan Israel, karena umat Islam berpecah belah dan kemaksiatan yang mereka lakukan.
Umar bin Khattab berwasiat ketika melepas tentara perang: ”Dosa yang dilakukan tentara (Islam) lebih aku takuti dari musuh mereka. Sesungguhnya umat Islam dimenangkan karena maksiat musuh mereka kepada Allah. Kalau tidak demikian kita tidak mempunyai kekuatan, karena jumlah kita tidak sepadan dengan jumlah mereka, perlengkapan kita tidak sepadan dengan perlengkapan mereka. Jika kita sama dalam berbuat maksiat, maka mereka lebih memiliki kekuatan. Jika kita tidak dimenangkan dengan keutamaan kita, maka kita tidak dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.”
Jumat, 12 Desember 2008
Tadabbur Ayat Hijrah
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Keempat ayat ini merupakan satu-satunya rangkaian ayat-ayat hijrah yang paling lengkap dan tersusun secara berurutan dari sekitar dua puluh ayat yang berbicara tentang hijrah. Karena ayat hijrah yang lain tersebar di beberapa tempat secara terpisah dan berdiri sendiri, tidak memiliki relevansi dengan ayat sebelum atau sesudahnya.
Dalam konteks hijrah, akan lahir dua kelompok manusia yang sama-sama secara berdampingan mendapat penghargaan dan tempat istimewa di sisi Allah atas ketulusan pengorbanan dan pengabdian mereka. Dua kelompok tersebut diabadikan dengan istilah yang indah dalam Al-Qur’an, yaitu Muhajirin dan Anshar. Muhajirin adalah orang-orang yang dengan suka rela meninggalkan semua yang mereka miliki beserta tanah air tempat tinggal mereka demi menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kelompok Anshor adalah mereka yang siap menerima, membela, memberi perlindungan dan bantuan kepada orang-orang yang berhijrah dengan tanpa mengharapkan imbalan selain balasan pahala dari Allah swt.
Kedua kelompok manusia ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dengan penghargaan dan jaminan yang tertinggi; Ridho Allah dan syurga-Nya yang abadi. Allah berfirman:
Ayat dengan redaksi yang sama dengan ayat ini berulang di surat At-taubah: 117, An-Nur: 22, Al-Ahzab: 6, dan Al-Hasyr: 8
Yang menarik untuk dicermati dari ayat yang menyebut aktor pelaku hijrah bahwa selain dari kelompok Muhajirin dan Anshar, Allah masih membuka peluang jaminan dan penghargaan yang sama dengan mereka bagi siapapun yang mampu mengikuti jejak teladan kedua kelompok itu dengan baik pasca hijrah yang tersirat dari firmanNya: “dan orang-orang yang mengikuti mereka (Muhajirin dan Anshar) dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.
Demikian gambaran hijrah Rasul dengan para sahabatnya dalam konteks sejarah ayat di atas ternyata sarat dengan nilai perjuangan, pengorbanan, kepeduliaan terhadap sesama, kesabaran dan persaudaraan (ukhuwah) yang melebihi batas kekeluargaan dan kekerabatan karena direkat dengan ikatan akidah. Nilai luhur ini merupakan nilai universal yang berlaku sepanjang zaman pasca sabda Rasulullah saw tentang hijrah: “Tidak ada hijrah setelah pembebasan kota Mekah, tetapi jihad dan niat”. (H.R. Bukhari). Justru ujian nilai hijrah akan tetap menjadi neraca ketulusan dan kualitas iman seseorang dengan sebuah jaminan bahwa hijrah yang diperintahkan Allah tidak ada lain adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.
Allah berfirman menjelaskan jaminan-Nya: “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An-Nisa’: 100).
Sungguh begitu mempesona Fragmen kehidupan dan interaksi harmonis yang tercermin antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dalam konteks Al-Itsar (mengutamakan dan lebih mementingkan saudaranya meskipun ia sangat membutuhkan) yang merupakan tahapan tertinggi dari sebuah implementasi bangunan ukhuwah (persaudaraan) yang telah ditunjukkan dalam sejarah hijrah sahabat Rasulullah: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”.(Al-Hasyr: 9)
Pembacaan lain dari ayat-ayat hijrah, bahwa aktifitas hijrah tidak terlepas dan selalu diapit dengan iman sebagai pondasi dan perjuangan (jihad) sebagai nilai aplikatif dari hijrah. Pendampingan dan pengapitan hijrah dengan iman dan jihad di dalam Al-Qur’an tentu bukan sebatas memenuhi standar keindahan bahasa Al-Qur’an, tetapi lebih dari itu terdapat nilai dan hikmah yang dikehendaki oleh Allah agar kita senantiasa memaknainya; bahwa hijrah memang merupakan bukti ketulusan iman seseorang, sedangkan jihad merupakan buah sekaligus konsekuensi logis dari aktifitas hijrah. Iman tanpa hijrah tidak akan bermakna, begitupula hijrah tanpa jihad berarti tidak berbuah. Makanya pendampingan ini berulang sebanyak sembilan kali, diawali dengan surat Al-Baqarah: 218 yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Kemudian disusul secara berurutan dengan surat Ali Imran: 195, Al-Anfal; 72-75, At-Taubah: 20, An-Nahl: 41 dan 110, serta surat Al-Hajj: 58.
Semua ayat yang berbicara tentang hijrah di atas adalah dalam konteks hijrah makaniyah (hijrah fisik; perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain) untuk mempertahankan akidah. Terdapat hanya satu ayat yang berbicara dalam konteks hijrah ma’nawiyah (hijrah nilai; berubah dari satu keadaan menuju keadaan yang lebih baik), yaitu firman Allah swt: “Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku senantiasa berhijrah kepada Tuhanku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Ankabut: 26). Dan di antara yang harus ditinggalkan dalam konteks hijrah maknawiyah seperti yang pernah Allah perintahkan kepada Rasulullah di era awal turunnya Al-Qur’an adalah perbuatan dosa dan maksiat seperti yang disebutkan dalam surat Al-Muddatsir: 5 yang bermaksud: “Dan perbuatan dosa tinggalkanlah”.
Memang hijrah makaniyah sangat kondisional dan mungkin tidak akan berulang seperti yang pernah terjadi di era Rasul, tetapi nilai dan pelajaran hijrah makaniyah masih tetap relevan, yaitu pelajaran kesabaran, kesiapan berkorban dan berjuang, kepeduliaan terhadap sesama, pelajaran persaudaraan yang dibangun atas dasar iman dengan itsar sebagai peringkat yang tertinggi serta pelajaran ta’awun untuk memperkuat posisi Islam dan umatnya. Kehidupan sosial yang ideal dan harmonis justru dirasakan oleh para sahabat saat peristiwa hijrah berlangsung. Sungguh betapa bernilai memang pelajaran hijrah para sahabat Rasul sehingga layak dijadikan momentum untuk melakukan perubahan dan perbaikan arah yang lebih baik, baik dalam skala pribadi, keluarga dan sosial.
Ditambah dengan hijrah ma’nawiyah yang merupakan media komunikasi dan harmonisasi hubungan dengan sang Khaliq. Semoga nilai dan pelajaran hijrah akan senantiasa mewarnai kehidupan kita menuju kehidupan yang lebih baik di bawah naungan rahmat dan ridha Allah swt. Amin.
Rabu, 03 Desember 2008
10 Hari Pertama Dzulhijjah
“Demi fajar. Dan malam yang sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil.” Qs. Al Fajr:1-3.
“Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. : “Puasa hari Asyura, Puasa 1-8 zulhijjah, 3 hari tiap bulan dan dua rakaat sebelum fajar.” Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i.Dari Ibni Abbas ra bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada amal yang lebih dicintai Allah dari hari ini, (yaitu 10 hari bulan Zulhijjah).” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah saw., dibandingkan dengan jihad fi sabilillah?” . “Meskipun dibandingkan dengan jihad fi sabililllah.” Riwayat Jamaah kecuali Muslim dan Nasa’i.
Pada hari-hari ini ada momentum yang sangat berharga, yaitu hari Arafah, siapa yang melaksanakan shaum sunnah pada waktu tersebut, maka dosanya akan diampuni satu tahun yang telah lewat dan satu tahun yang akan datang.
“Rasulullah saw. ditanya tentang shaum hari Arafah, beliau menjawab: “Shaum Arafah menghapus dosa satu tahun yang telah lewat dan satu tahun yang akan datang.” Imam Muslim dalam sahihnya.
Hari-hari ini merupakan puncak prosesi ibadah haji, waktu-waktu mahal bagi seseorang yang melaksanakan ibadah ke tanah suci. Rasulullah saw. bersabda:
“Haji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga. Dan dua umrah atau antara umrah satu dengan umrah berikutnya, menghapus kesalahan antara keduanya.” Imam Ahmad dalam musnadnya.
Di antara hari-hari inilah ada yang disebut dengan “Al Hajjul Akbar”, yaitu hari penyembelihan, penyembelihan hewan kurban yang hukumnya sunnah mu’akkadah, sunnah yanng sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw. dilaksanakan setelah shalat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah dan dilanjutkan pada hari ketiga berikutnya, 11,12, dan 13 Dzulhijjah, yang dikenal dengan “ayyamun nahr” -hari-hari penyembelihan-.
“Barangsiapa memiliki kelapangan rizki, namun tidak menyembelih hewan kurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” Imam Ahmad dan Ibnu Majah.
Sumber: dakwatuna.com
Jumat, 14 November 2008
JIHAD.... OR TEROR...?
Jika kita buka satu persatu pembahasan-pembahasan tentang jihad, hampir semuanya mengarah pada bentuk jihad qitali, sebagai puncak dari jihad. Walaupun hampir keseluruhan ulama juga sepakat bahwa sektor jihad tidak hanya mengerucut pada jihad qitali semata. Prof Dr. Syekh Abdullah Nasih Ulwan (ulama pergerakan Islam terkemuka) juga membenarkan adanya bentuk jihad yang lainnya, seperti jihad mali, jihad iqtishadi, jihad siyasi, jihad ta'limi, dsb. (Lihat buku hattaya'lama syabab...). Pada intinya, seluruh rangkaian aktivitas yang mengarah pada litakuna kalimatallah hiyal ulya, yang dilakukan secara benar sesuai dengan manhaj Al-Qur'an dan sunnah, dapat dikategorikan sebagai jihad fi sabilillah...Bahkan dalam beberapa keadaan, jihad mali, jihad siyasi, jihad ta'limi bisa lebih baik dari pada jihad qitali itu sendiri, meskipun jihad qitali adalah puncaknya jihad. Hal ini karena situasi dan kondisi sangat menentukan dalammelihat amalan mana yang paling afdhal.
Dalam hadits, terdapat beberapa riwayat di mana sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai amalan yang paling afdhal. Dan ketika menjawabnya, ternyata terhadap sahabat yang satu terkadang Rasulullah SAW memberikan jawaban berbeda ketika menjawab sahabat yang lainnya, tergantung situasi dan kondisinya. Terkadang beliau mengatakan al-jihadu fi sabilillah sebagai amalan yang paling afdhal, namun di lain tempat beliau mengatakan al-hajjul mabruru, di lain tempat beliau mengatakan birrul walidaini, dsb. Ini artinya bahwa suatu amalan tidak melulu dipandang paling baik sepanjang masa. Ketika adzan berkumandang, maka amalan yang paling afdhal adalah segera memenuhi panggilan Allah shalat di Masjid, membaca Al-Qur'an menjadi tidak afdhal pada saat tersebut.
Dalam pelaksanaannya, jihad (qitali) memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh "sang mujahid". Di daerah yang "terjajah" oleh musuh-musuh Allah, seperti Palestina, semua ulama bahkan sepakat, bahwa aksi pengeboman dengan mengorbankan diri sendiri adalah sebagai mati syahid. Aksi seperti inipun kemudian dikenal dengan istilah amaliyah istisyhadiyah. Ini disepakati oleh hampir seluruh ulama, bahkan termasuk ulama Arab Saudi sekalipun. Karena secara pembagian wilayah jihad, wilayah tersebut masuk dalam kategori darul harb, yang setiap muslim berkewajiban untuk mempertahankan wilayah negaranya. Adapun diluar darul harb, ulama tidak sepakat apakah diperbolehkan untuk melakukan aksi pengeboman. Bahkan setahu saya bahwa sebagian besar ulama melarangnya, meskipun ada juga ulama yang memperbolehkannya, itupun dengan syarat-syarat dan kondisi tertentu.
Pertanyaan apakah Ali Ghufran, Amrozi, dan Imam Samudera adalah termasuk para syuhada? Wallahu A'lam Bis Shawab, hanya Allah yang Maha Tahu. Karena banyakVariabel agar seseorang dikatakan sebagai syuhada'. Faktor keikhlasan, niatan yang benar, cara yang benar, sarana yang benar, waktu yang benar, objek yangbenar, adalah di antara faktor kesyahidan seseorang. Dan terkadang dalam hal ini,faktor kesubyektifitasan orang yang menilai juga menjadi faktor tarik menarik untuk menilai apakah si fulan termasuk syuhada' atau bukan. Sebagian kalangan sangat yakin bahwa mereka adalah para syuhada, sementara kalangan yang lain sangat yakin bahwa mereka bukan syuhada', sementara ada sebagian kalangan yang baina-baina; melihat niatannya benar namun caranya salah... Wallahu A'lam BisShawab, hanya Allah sajalah yang Maha Tahu.
Allah Maha Tahu, atas seseorang yang dinegatifkan oleh dunia, dianggap sebagai biang kekecauan dunia dan dianggap orang paling bejat di dunia, bisa jadi ia adalah orang yang paling baik di hadapan Allah.... Sebaliknya ada orang yang mungkin oleh orang sedunia ia dianggap sebagai ahlul khair... bahkan semua orang sepakat bahwa ia adalah ahlul khair, namun ternyata ia tidak memiliki satu bentuk sifat khair pun di mata Allah SWT.... Hanya Allah yang Maha Tahu. Karena hal ini merupakan hal yang "ghaib", yang tidak bisa dideteksi secarala hiriyah...
Ada sebuah riwayat Imam Muslim yang juga dicantumkan oleh Syekh Sayid Muhammad Nuh dalam Taujihad Nabawiyah, tentang seorang yang dianggap mati syahid. Lalu ia dihadapkan kepada Allah SWT, lantas Allah bertanya kepadanya, "amalan apa yangtelah engkau lakukan? Ia menjawab aku berjuang (berperang)di jalan-Mu hingga aku mati syahid." Kemudian Allah berfirman, "Engkau berdusta. Engkau berjuang supaya dikatakan pemberani, dan perkataan itu telah diucapkan manusia.." Lalu ia ditarik dari hadapan Allah hingga dicampakkan ke dalam neraka. (HR Muslim,KitabAl-Imarah, Bab Man Qatala Lir Riya' Was Sum'ah Istahaqqan Nar...)
Namun yang sebalinya juga ada, seseroang yang ketika para sahabat berperang ia masih mengunyah beberapa butir kurma, enggan untuk turut ke medan perang. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah, apa yang akan ia dapatkan jika ia terbunuh di medan pertempuran? Ketika dijawab surga, iapun segera bangkit menuju medan pertempuran, dan ia mendapatkan syahid....
Kita semua hanya bisa mendoakan, agar orang-orang yang kita cintai medapatkan tempat yang paling mereka cintai, di sisi Rab yang mereka cintai.... Seraya kita juga introspeksi diri agar kita memperbaiki amaliyah-amaliyah kita baik yang bersifat lahiriyah maupun batiniyah agar menjadi lebih baik lagi dari harike hari.... Serta hendaknya kita juga benar-benar mempelajari bagaiamana sesungguhnya manhaj perjuangan yang tepat yang dicontohkan oleh Rasulullah SAWbersama para sahabatnya.
Ada satu hal lagi mungkin yang perlu digaris bawahi mengenai firman Allah SWT dalam surat Al-Anfal : 60. Yaitu bahwa kata turhibuna ditafirkan oleh mayoritasa hli tafsir dengan yukhawwifuna, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasaIndonesia dengan "menggetarkan". (Lihat Ibnu Katsir, Al-Qurtubi, Al-Jalalain,dsb). Menafsirkan ayat yurhibuna dengan menteror, menurut saya agak kurang tepat. Walaupun dalam bahasa Arab kontemporer yang digunakan oleh media masa Arab saat ini, seringkali menterjemahkan istilah terorisme dengan irhabiyah, teroris dengan irhabi atau irhabiyun (jama'). Istilah yang digunakan oleh mediaArab ini justru pada mulanya "mengacaukan" pemahaman tentang makna turhibuna dalam surat Al-Anfal 60 ini. Dan menurut saya, kita jangan terjebak oleh penerjemahan media masa Arab sekuler tersebut.
Yukhawwifuna (yang kemudian diartikan menggetarkan) lebih mengarah pada kewibawaan umat, ketika kita memiliki pasukan yang telatih, memiliki mentalitas keimanan yang baik, siap tempur, berjumlah cukup banyak, memiliki peralatan yangmemadai (pada zamannya minimal kuda perang). Dengan pasukan yang seperti itu,akan mengakibatkan musuh-musuh Allah menjadi "takut" dan "gentar". Dan saya belum menemukan (minimal dari tafsir-tafsir yang saya baca), bahwa turhibuna itubermakna menteror. Karena Rasulullah SAW sendiri pun tidak pernah mencontohkan untuk melakukan satu bentuk teror (kecuali dalam kondisi darul harbi, di tengah medan pertempuran). Demikian juga para sahabat-sahabat beliau. Oleh karenanya, saya menghimbau agar kita semua lebih berhati-hati dalam mentafsirkan ayat-ayat tertentu, agar tidak terjerumus dalam pemahaman yang "dakhil" atau kurang tepat. Karena kalau pemahamanan kurang tepat, tentu aksinya akan kurang tepat. Dan jika aksinya kurang tepat, tentu hasilnya juga kurang tepat. Dan tanggungjawab dihadapan Allah SWT pun akan menjadi kurang tepat. Namun marilah kita menuju pemahaman yang tepat, yang akan melahirkan aksi yang tepat, hasil yangtepat dan tanggung jawab dihadapan Allah yang juga tepat....
Sebagaimana disampaikan Al Ustadz Rikza Maulan, Sekretaris DPS PT Asuransi Takaful Indonesia dalam Forum Takaful
Jumat, 17 Oktober 2008
Mengapa Kapitalisme Meruntuhkan Ekonomi Dunia?
Kapitalisme telah menyebabkan terjadinya krisis yang selalu berulang di dunia ini. Semenjak kapitalisme menjadi urat nadi perekonomian, dunia telah mengalami krisis sebanyak lima kali. Dan, krisis kali ini adalah krisis yang kelima setelah sebelumnya krisis menimpa pada tahun 1997/1998 yang lalu. Mengapa kapitalisme dianggap sebagai biang keladi dari krisis global ini? Apa sebenarnya yang menjadi akar permasalahan dari kapitalisme tersebut? Setidaknya ada 4 pokok masalah yang secara instrinsik dimiliki oleh kapitalisme, adalah sebagai berikut:
pertama, kapitalisme menjadikan uang sebagai komoditi. Dalam kapitalisme terjadi pasar semu. Jual beli uang dan derivatifnya, berupa saham, obligasi, index, dan sebagainya telah menyebabkan terjadinya bubble economy. Sektor moneter dipisahkan jauh dari sektor riil. Ekonomi terlihat mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, tapi sebenarnya hanyalah gelembung seperti balon yang semakin lama gelembung tersebut semakin besar, pada akhirnya akan pecah, hancur berantakan. Sementara sektor riil tidak mengalami perkembangan yang signifikan, bahkan jauh tertinggal dari sektor moneter. Terjadinya jurang pemisah yang lebar menganga antara sektor moneter dan sektor riil, menunjukkan kerapuhan bangunan ekonomi, dan tidak diragukan lagi pada suatu saatnya nanti akan meletus, hancur berantakkan. Di lain pihak, saham yang merupakan derivasi dari uang dan diperdagangakn sedemikian likuidnya di pasar modaltidak menggambarkan kondisi yang sesungguhnya dari perseroan. Nilai saham naik dan turun bukan disebabkan oleh kondisi internal perusahaan (fundamentalis issue) tapi lebih disebabkan oleh emotional issues, seperti faktor-faktor yang sifatnya politis, isu yang mencuat ke permukaan, dsb. sehingga, bisa jadi perusahaan sedang berjalan ke arah kebangkrutan tetapi sahamnya justru mengalami over pembelian. Dan, inilah yang terjadi saat ini.
Kedua, Kapitalisme berdasarkan pada sistem ribawi. Sudah tidak diragukan lagi, bahwa riba adalah sesuatu yang dilarang dalam sistem ekonomi Islam. Riba memiliki 73 pintu dosa, dimana dosa paling ringan dari riba bagaikan dosa seorang anak menzinahi ibunya. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana dosa yang paling berat dari riba..? Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 275-276, yang terjemahannya sebagai berikut,
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah idambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulang (mengambil riba), maka orang itu adalah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah. Dan, Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa."
Dalam menafsirkan ayat tersebut di atas, Muhammad Ali Ash Shabuny dalam tafsirnya Cahaya Quran memaparkan bahwa Alquran menyerupakan orang yang mengambil riba dengan orang yang gila, tidak waras, dan dirasuki syetan, karena Allah mengembangkan apa yang mereka makan di dalam perut dari hasil riba, sehingga membuat mereka terbebani dan berat, lalu mereka tampak seperti orang tak waras, yang bangkit lalu menjatuhkan diri. Bahaya riba dari sisi ekonomi sudah sangat jelas. Riba menjadikan manusia terbagi menjadi dua tingkatan. yang satu tingkatan orang yang hidup mewah bergelimang kenikmatan dan kesenangan berkat keringat yang mengucur dari kening orang lain. yang satu lagi tingkatan orang yang tidak punya apa-apa, dikejar kebutuhan hidup dan kemiskinan namun mereka harus mensubsidi tingkatan sebelumnya.
Ketiga, Spekulasi. Mekanisme pasar uang dan pasar modal, tidak bisa terlepas dari spekulasi para investor. Jual beli uang dan derivasinya penuh dengan spekulasi untuk meraih kekayaan di kemudian yang sifatnya tidak pasti, tidak riil.
Keempat, Maysir (penipuan). Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, saham-saham yang diperjualbelikan tidak secara kongkrit menggambarkan kondisi kinerja perusahaan, karena lebih banyak dipengaruhi oleh isue-isue yang lebih bersifat emosional, bukan fundamental.
Kamis, 16 Oktober 2008
Kepada Anakku, Afzalurrahman...
Anakku, sengaja kutulis dan kuposting tulisan ini, agar kelak kau tahu, bahwa kau adalah bagian dari sejarah. Bukan hanya sejarah bagi ayah dan ibumu, tapi juga sejarah bagi orang yang pernah dan akan mengenalmu, sejarah bagi orang yang tidak pernah mengenalmu, sejarah bagi orang yang mencintaimu, sejarah bagi orang yang membenci dan memusuhimu, sejarah bagi tapak-tapak jalanan yang di atasnya kau teteskan keringat lelah perjuangan panjang, sejarah bagi bumi yang tidak kunjung kau jejaki, sejarah bagi bangsa yang merindu aksi juang keimananmu, sejarah bagi negeri yang menanti gegap kepal kekar tanganmu mencengkeram durjana perusak dan penghancur yang murka. Dan yang pasti, kau adalah sejarah bagi perjalanan agama menuju mihrab kemenangan yang dijanjikan.
Anakku, ketika kau dilahirkan ke bumi ini dengan sedaya juang ibumu yang ikhlas dan sesabar ayahmu yang menanti penuh kerinduan, bukan sekedar senyum ayah-ibumu yang mengembang kebahagiaan, bukan jua sekedar peluk syukur saudaramu yang hangat kegirangan. Dibalik itu semua, amanah yang menggunung, pun harapan yang menganak samudera, telah diletakkan di atas pundakmu yang mungil. Bukan, bukan oleh ayah dan ibumu. Tapi oleh seluruh penduduk langit dan bumi. Mereka yang berharap kehadiranmu menjadi angin penyejuk episode kehidupan ini. Mereka yang sudah tak sabar lagi menanti semburat sinar pengusir kegelapan. Mereka yang tlah lelah menanti sosok tubuh yang tegap dengan tekad membara, membawanya ke arah pendakian yang lurus, agar aroma puncak yang segar dan panorama indah lembah kemenangan segera dapat dihirup dan disaksikan...
Anakku, Palestina yang membara, Irak yang bergejolak, Afghanistan yang merana, Indonesia yang menderita, dan sederet panjang negeri-negeri muslim yang berduka... Mereka adalah korban-korban kebiadaban zionis dan Amerika sebagai biang penjahatnya. Dunia ini tlah lelah, merindu aksi seorang anak manusia yang ikhlas, yang mampu mengabdikan segala waktu, tenaga, dan jiwanya, untuk memimpin mereka keluar dari segala krisis kehidupan yang menggurita. Jadilah kau sosok itu, pemimpin yang akan membawanya menjadi khalifah Allah di bumi ini, yang akan memakmurkannya dengan penuh amanah dan kokohnya keimanan...
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahui; sedangkan Allah mengetahuinya” (al Anfal: 60).
“Kerana itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar” (an-Nisa’: 74).
al Imam asSyahid berkata pada penutup Risalah al Jihad “Sesungguhnya ummat yang menyebabkan kematian dengan cara yang baik dan mengetahui bagaimana untuk mati dalam kematian yang mulia, Allah mengurniakan kepadanya kehidupan yang mulia di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat. Tidak adalah al Wahan yang melemahkan kita yakni kecintaaan kepada dunia dan kebencian kepada mati. Maka persiapkanlah diri kamu untuk amal yang besar ini dan inginkanlah kepada kematian, nescaya akan diberikan kepadamu kehidupan. Dan ketahuilah kematian itu tidak dapat tidak daripadanya. Ianya (kematian) adalah sekali sahaja, jika kamu jadikannya pada jalan Allah jadilah ia keuntungan di dunia dan balasan pahala di akhirat. Tidaklah menimpa kamu melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kamu. Maka ketahuilah, dengan kematian yang mulia itu kamu berjaya dengan kebahagian yang sempurna. Semoga Allah mengurniakan kepada kami dan kepadamu kemuliaan mati syahid di jalanNya.”